Kalah Bukan Pasrah

Kalah Bukan Pasrah
Sumpah Pemuda

Jumat, 15 Februari 2013

Asset SBY Familly

Korbankan Anas, SBY ingin Aman dari Jeratan Korupsi

JAKARTA, RIMANEWS - Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat (PD), Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menumbalkan Ketua Umum PD Anas Urbaningrum karena ingin mencari aman untuk menyelamatkan citra partai dari turunnya elektabilitas.

Pengamat Politik Yudi Latief menilai, hal ini merupakan kejadian yang baru ketika SBY berupaya melakukan pencitraan dari prahara yang merundung partainya.

"Ya sepertinya watak SBY ambil jalan aman, dan pencitraan menjadi sesuatu penting untuk SBY," jelas Yudi, di Dapur Selera, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (10/2/2013).
Dia melanjutkan, apa yang dilakukan SBY saat ini tidak ada yang istimewa selain ingin menyelamatkan partai, namun sangat disayangkan karena dirinya mengorbankan Anas.

"Merosotnya popularitas dan elektabilitas di survei, SBY tampaknya langsung mengambil jalan untuk citra, agar bisa selamat," tegasnya.
Menurut dia, cara SBY mengorbankan Anas ialah, agar terkesan di masyarakat dugaan kasus korupsi yang diduga dilakukan Anas dalam pembangunan Sport Center, Hambalang, Bogor, berbeda jarak dengan partainya.

"Dan ambil jalan penyelamatan pun dengan citra aman, termasuk karena adanya persepsi Demokrat bahwa aktor pentingnya yang membuat elektabilitas merosot adalah Anas, jadi seolah ada treatment agar ada jarak," pungkasnya.


Pengamat politik : 
Gun Gun Heriyanto menjelaskan kecil kemungkinan pada Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Demokrat yang digelar besok akan membahas soal Kongres Luar Biasa (KLB) dalam rangka melengserkan Anas Urbaningrum dari posisi ketua umum (ketum).

 Menurutnya, hingga saat ini, belum ada dasar yang kuat bagi Demokrat untuk menendang Anas dari posisi penting di partai berlambang Mercy itu.

"Saya melihat kecil kemungkinan akan KLB. Ada beberapa faktor yang menurut saya masih dipertimbangkan Demokrat sehingga tak akan merencanakan KLB untuk saat ini,", kata Gun Gun mengutip sindonews, Sabtu (16/2/2013).

Faktor yang pertama adalah, jika kasus hukum yang disangkakan kepada Anas tak kunjung jelas, maka upaya partai untuk menggeser Anas kemungkinan susah."Tidak ada tautan dasar hukumnya dalam konstitusi partai," tegasnya.

Faktor kedua, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam hal ini sebagai Ketua Majelis Tinggi tentu saja sudah berhitung cermat, jika upayanya mendorong KLB itu hanya akan menciptakan perang terbuka.

Faktor ketiga, jikapun KLB didorong, belum tentu menjadi mekanisme yang mudah melengserkan Anas. Bahkan bisa jadi, jika dibuka kesempatan untuk pengambilan suara, posisi Anas justru makin menguat, dan bisa saja SBY dipermalukan.

Sebaliknya, jika Anas dinyatakan sebagai tersangka, maka sudah pasti memudahkan bagi SBY dan elite Demokrat yang non Anas langsung mengamputasi mantan Ketua Umum HMI itu dari Demokrat. "Kemungkinan SBY tak akan zero sum game," tukasnya.[ian/Snw]






Tidak ada komentar:

Posting Komentar